Sabtu, 29 Oktober 2011

PENGARUH SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk. CABANG MANNA


PENGARUH SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk. CABANG MANNA

Posted: 30 Mei 2011 by Kutau Komputer in Proposal Skripsi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengembangan sumber daya manusia ( Human Resurces ) memegang peranan yang sangat penting, hal ini dikarenakan manusia yang mengatur dan menggunakan segala yang ada disekitarnya.
Sebuah negara yang memiliki sumber daya alam yang kaya dan berlimpah bukan jaminan bahwa segala sesuatu yang dimilikinya itu dapat bermanfaat tanpa adanya sumber daya manusia yang mendukung, sebaliknya dengan sumber daya manusia yang ahli maka dapat diatasi masalah yang berhubungan dengan sumber daya alam, hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa Negara yang secara sumber daya alamnya kurang mendukung namun sumber daya manusia yang memadai maka Negara itu akan dapat mengatasi keterbatasan sumber daya alam yang dihadapinya. Jadi sekali lagi dapat dibuktikan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu hal yang penting.
Dalam sektor usaha perbankan merasakan sangat penting terhadap pengembangan sumber daya manusia, karena sektor usaha ini menghimpun resiko yang besar dan labil. Dinia perbankan sangat peka terhadap situasi ekonomi yang tidak mendukung, untuk meminimalisi keadaan yang demikian maka suatu bank harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu dengan adanya karyawan yang berkualitas dari suatu bank maka akan memungkinkan bank tersebut mempunyai kinerja atau prestasi yang baik pula.
Bank dalam menjalankan usahanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam berbagai alternatif investasi. Sehubungan dengan fungsi penghimpun dana ini, bank senantiasa berkaitan dengan uang karena memang komoditi usahanya tersebut maka bank merupakan suatu segmen usaha yang kegiatannya diatur oleh pemerintah, selain itu bank juga mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Menurut Undang-undang No. 10 tahun 1998, yang dimaksud dengan “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak”. Sedangkan yang dimaksud dengan bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan berdasarkan prinsip yang dalam kegiatan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Bank BRI sebagai salah satu bank umum yang ada di Indonesia memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi dan menjadi penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan dan keuangan yang telah berpengalaman selama lebih kurang 150 tahun. Bank BRI berdiri pada tahun 1965. sedangkan Bank BRI keseluruhan Nasionalnya berdiri pada tanggal 16 desember 1895.
Sebagai salah satu bank yang cukup berpengalaman dalam bidang perbankan di Indonesia maka PT Bank BRI haruslah menjalankan seluruh kegiatan operasionalnya dibutuhkan ketelitian, ketepatan dan kemampuan sumber daya manusia terhadap kinerja, agar meningkatkan kepuasan pelayanan nasabah dalam menggunakan jasa perbankan di PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
Untuk meningkatkan pelayanan pada Bank BRI, maka perusahaan sangat memperhatikan kecanggihan teknologi yang dapat mempermudah seluruh pekerjaan yang ada. Bahkan di tahun 2009 ini PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna telah menyadari pentingnya informasi sebagai rutinitas karyawan dalam mengerjakan aktivitas tanpa dibatasi ruang dan waktu. PT Bank BRI menggunakan sistem informasi sumber daya manusia karena informasi ini dapat mendukung berbagai macam yang berkaitan dengan personalia organisasi.
Prosedur adalah rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk waktu mendatang. Dan Informasi adalah sejumlah data yang telah diproses dan disajikan sedemikian rupa, sehingga dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti pengambilan keputusan. (Riswantini, 2003).
Sistem informasi sumber daya manusia adalah prosedur sistematik untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menvalidasi data-data organisasi mengenai sumber daya manusia dan kegiatan-kegiatan personalia. ( Riswantini, 2003). Oleh karena itu untuk menjalankan sistem Informasi sumber daya manusia (SISDM). PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang dipekerjakan. Jangan sampai informasi yang canggih akan tetapi kinerja karyawan yang tidak memuaskan akibat tidak memhami, apalagi menguasai sistem inforamasi yang ada.
Untuk mengahasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaannya, maka karyawan harus dapat meningkatkan kinerja. Kinerja adalah kemampuan dalam menjalankan tugas dan pencapaian, standar keberhasilan yang telah ditentukan oleh perusahaan. (Salim:2004). Dari kinerja yang diraih karyawan maka seseorang pemimpin dapat melakukan umpan balik, pemberian penyesuaian kompensasi dan dapat melakukan promosi bagi karyawan yang berprestasi.
PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna mengutamakan kualifikasi tertentu dalam menerima calon karyawan apalagi mengingat perusahaan ini kesehariannya menggunakan sistem informasi yang canggih. Oleh karena itu, karywan dituntut untuk dapat menggunakan kecanggihan informasi global dengan baik, membangun sistem informasi sumber daya manusia online yang dapat diterapkan pada semua unit kerja PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna agar sesuai yang diharapkan dan memuaskan kebutuhan nasabah.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik menjadikan penelitian dan menulisnya dalam skripsi dengan judul “Pengaruh Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM) terhadap Kinerja Karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh antara sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM) terhadap Kinerja Karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna?.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini : untuk mengetahui pengaruh Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM) terhadap Kinerja Karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Memberi Informasi dan menjadi bahan masukan bagi PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna mengenai Sistem Informasi Sumber Daya Manusia terhadap Kinerja Karyawan.
2. Menambah wawasan bagi penulis dalam penelitian dan penulisan maupun hal-hal yang berkaitan dengan Bidang Informasi Sumber Daya Manusia terhadap Kinerja Karyawan.
3. Bermanfaat bagi rekan-rekan sesama peneliti untuk dijadikan literatur dalam penulisan dengan permasalahan yang ada kesamaannya.
1.5. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ada, maka peneliti membatasi pada sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM) terhadap Kinerja Karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Pengertian Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM)
Komputer telah menyederhanakan pekerjaan menganalisis jumlah data yang luas dan sangat berguna dalam manajemen sumber daya manusia. Banyak pengertian sistem informasi sumber daya manusia yang dikemukakan oleh para ahli, menurut Mathis (2001 : 61), “Sistem informasi sumber daya manusia adalah sistem integrasi yang dirancang untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan sumber daya manusia ”.
Handoko (2001:237) mendifinisikan :
“Sistem informasi sumber daya manusia adalah suatu prosedur sistematik pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan, perolehan kembali dan validasi berbagai data tertentu yang dibutuhkan oleh suatu organisasi tentang sumber daya manusianya, kegiatan-kegiatan personalia dan karakteristik-karakteristik satuan kerja”.
Sedangkan menurut Riswantini (2004) “ Sistem informasi sumber daya manusia merupakan prosedur sistematik untuk mengumpulkan, menyimpan, mengambil dan memvalidasi data oleh organisasi mengenai sumber daya manusia dan kegiatan-kegiatan personalia. Dalam kegiatan personalia melakukan kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai tujuan organisasi.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan Sistem informasi sumber daya manusia adalah suatu cara yang dilakukan oleh Karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna untuk mempermudah pekerjaan dalam melakukan pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan, perolehan kembali dan validasi berbagai data tertentu yang dibutuhkan oleh PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna agar tujuan dapat dicapai.
Menurut Siagian (2005:65). Efektif tidaknya penyelenggaraan berbagai fungsi yang menjadi tanggung jawab manajemen sumber daya manusia sangat tergantung pada adanya sistem informasi sumber daya manusia yang handal serta dipelihara secara cermat sehingga mencerminkan kemuktahiran, akurasi dan kelengkapannya, inti suatu sistem informasi sumber daya manusia terletak pada informasi tentang
a. Uraian semua jabatan yang lengkap sehingga diketahui aneka ragam pekerjaan yang harus dilaksanakan.
b. Analisis pekerjaan yang memberikan gambaran yang jelas tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh tenaga kerja yang ditugaskan dan diberi tanggung jawab tertentu.
c. Standar unjuk kerja yang digunakan sebagai tolak ukur tentang berhasil tidaknya seseorang memangku jabatan dan mengerjakan tugasnya.
2.1.2. Tujuan dan Manfaat Sistem Informasi Sumber Daya Manusia
Tujuan sistem informasi sumber daya manusia melayani dua tujuan utama dalam organisasi adalah sebagai berikut :
1. Tujuan utama sistem informasi sumber daya manusia adalah peningkatan eksistensi data tenaga kerja dimana kegiatan sumber daya manusia dikumpulkan, beberapa kegiatan sumber daya manusia dapat ditunjuk dengan lebih efisien dari penyimpanan data secara manual.
2. Tujuan kedua sistem informasi sumber daya manusia adalah lebih strategis dan berhubungan dengan perencanaan sumber daya manusia. Dengan kemampuan mengakses data memungkinkan perencanaan sumber daya manusia. Dengan pembuatan keputusan tingkat manajerial menjadi dasar untuk tingkat informasi yang lebih besar tergantung pada persepsi dan intuisi manajerial.
Sistem informasi sumber daya manusia memiliki banyak kegunaan dalam suatu organisasi, dengan pencatatan waktu tenaga kerja dimasukkan kedalam sistem dan modifikasi disesuaikan pada perusahaan sendiri dapat mempermudah pekerjaan tanpa dibatasi ruang waktu. Data yang telah ada dapat dipergunakan kembali dan terjamin kerahasiaan dengan dokumen penting perusahaan.
2.1.3. Karakteristik yang penting bagi sistem Informasi Sumber Daya Manusia
1. Data Base
Menurut Mecleod (2001 : 258), “Data base adalah koleksi data komputer yang terintergrasi dan disimpan dengan suatu cara yang memudahkan pengambilan kembali”. Dua tujuan utama dari konsep database adalah meminumkan pengulangan data mencapai idependensi data, pengolahan data (data redundancy) adalah duplikasi data artinya data yang sama disimpan dalam beberapa file, idenpendensi data adalah kemampuan untuk membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program yang memproses data.
2. Pemasukan Data ( entri data )
Data yang dimasukkan digunakan untuk informasi haruslah efesian dan akurat, bila informasi yang diperlukan untuk memproduksi berbagai keluaran yang diinginkan tidak disampaikan ke data base pada waktu yang tepat dan dengan cara sedapat mungkin mencegah kesalahan, sistem tidak akan berfungsi sesuai dengan tujuan. Proses pemasukan data ini dipermudah dengan laju pengembangan komputer yang terjadi secara mudah dengan laju perkembangan komputer yang terjadi secara dasyat , kemajuan teknologi komputer telah memungkinkan penggunaan waktu sumber daya manusia dan sumber daya komputer secara efesien.
3. Penarikan Data (Retrieval)
Bagi perusahaan penarikan informasi mengenai data sangatlah dibutuhkan secara cepat, agar data yang dibutuhkan dapat segera diterima dan dijalankan dan memberikan pemekiran kepada karyawan kebebasan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap data yang tersedia dengan cara karyawan kehendaki. Dalam penarikan data (retrieval) ini lebih fleksibel dalam mengahadapi perubahan-perubahan kegiatan personalia organisasi dan kebutuhan informasi, selain tidak membuat sistem menjadi terlalu rumit.
4. Pusat Informasi Sumber Daya Manusia
Beberapa unsur pembentukan pusat Informasi sumber daya manusia dalam keberhasilan sistem yaitu sebagai berikut :
a) Pusat Informasi sumber daya manusia harus memastikan bahwa ke dalam sistem telah secara benar diterima dan bahwa perusahaan data base diproses secara berurutan.
b) Pusat Informasi sumber daya manusia harus mengambil inisiatif dan melihat apakah data base adalah akurat dan selalu up to date.
Pusat Informasi sumber daya manusia bertujuan untuk membuat skedul pemprosesan dan pembaharuan data dalam sistem secara periodik dan pusat Informasi sumber daya manusia memiliki manfaat sebagai administrator sistem dari sudut pandang kerahasiaan informasi dan tidak ada penyalahgunaan informasi.
5. Kualitas Data
Informasi yang diterima haruslah berkualitas yang terdiri dari akurasi, ketepatan waktu kejelasan dan ketersediaan data, penjamin kualitas yang membantu karyawan memecahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan ketepatan waktu, agar karyawan dapat menggunakan sistem ketika mereka membutuhkan.
2.1.4. Pengertian Kinerja
Batasan mengenai kinerja bisa dilihat dari berbagai sudut pandang tergantung pada tujuan masing-masing organisasi. Dalam sudut usaha perbankan, perusahaan berusaha mencari keuntungan (propit) melalui bunga yang dibebankan kepada nasabah. Menurut Gibson (1996 : 70 ) “Kinerja (performance) adalah hasil yang diinginkan dari pelaku dan kinerja individu adalah dasar kinerja organisasi ”.
Menurut Murdijanto (2001 : 29) menyatakan bahwa “Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka hukum dan sesuai dengan moral maupun etika ”.
Menurut Simamora (1999), “Kinerja adalah tingkat terhadap para karyawan yang mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan ”.
Definisi-definisi diatas pada dasarnya mengandung makna kemampuan menjalankan pekerjaan dan pencapaian standar kerja agar dapat menggambarkan seberapa baik seseorang memenuhi tintitan pekerjaannya.
2.1.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
Menurut Simanjuntak (2004 : 14), untuk meningkatkan kinerja karyawan maka ada bebarapa hal yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan dan pelatihan
b. Penghasilan dan jaminan sosial
c. Keterampilan, disiplin, dan etika sosial
d. Gizi dan kesehatan
e. Lingkungan dan iklim kerja
f. Motivasi kerja
g. Masa kerja.
As’ad (2008:8), berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu sekaligus menyebabkan perbedaan prestasi kerja karyawan dalam organisasi disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya intelegensi, bakat, dan minat, kepribadian, motivasi dan pendidikan. Sedangkan faktor eksternal diantaranya perlengkapan kerja, teman kerja dan alat-alat pendukung pekerjaan.
2.1.6. Penilaian Kinerja
Dengan memperhatikan pekerjaan kinerja, merupakan masalah yang pokok dalam pengukuran kinerja secara keseluruhan, secara umum kinerja berkaitan dengan individu karyawan dan juga organisasi, barang kali teknik yang paling tua yang digunakan oleh manajemen untuk meningkatkan kinerja adalah penilaian (appraisal).
Menurut Simamora (1999 : 415 – 416) “Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah proses dengan organisasi mengevaluasi pelaksanaan kinerja individu”. Lebih lanjut menurut Mark C.Zweng dalam Simamora (1999 : 414 – 415) menggantikan “penilaian kinerja adalah proses penilaian hasil yang akan digunakan pihak manajemen tentang mutu hasil pekerjaannya dipandang dari sudut kepentingan perusahaan”.
“Penilaian kinerja adalah proses melalui organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan”. (Martoyo, 1998 : 84). Menurut Handoko (1999 : 138), penilaian hendaknya memberikan suatu gambaran akurat mengenai kinerja karyawan untuk mencapai tujuan ini, sistem penilaian harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan, praktis, mempunyai standar-standar dan menggunakan berbagai ukuran yang dapat diandalkan.
Dengan memperhatikan definisi di atas maka penilaian kinerja adalah proses yang dilakukan oleh pihak manajemen oleh pihak manajemen perusahaan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan atau bawahannya untuk menjadi tolak ukur dan kemampuan seorang karyawan.
2.1.7. Ukuran-ukuran Penilaian Kinerja
Menurut Notoadmojo (2000 : 25) ukuran –ukuran yang dilakukan dalam penilaian kinerja karyawan adalah sebagai berikut :
a. Penilaian kinerja harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan (job Ralated) artinya sistem penilaian itu benar-benar menilai prilaku atau kerja yang mendukung kegiatan orang dimana ia bekerja.
b. Adanya standar pelaksanaan
Standar pelaksanaan adalah ukuran yang diapaki untuk menilai kinerja tersebut, agar penilaian itu efektif maka standar penilaian hendaknya berhubungan dengan hasil=hasil yang diinginkan setiap pekerjaan.
c. Praktis
Setiap penilaian praktis, bila mudah dipahami dan dimengerti serta digunakan, baik oleh penilai maupun karyawan.
2.1.8. Pengaruh Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja
Sebagai satu masalah yang paling sulit yang dihadapi oleh seorang pekerja adalah relatif kurang adanya penasehat yang memenuhi syarat untuk membantu kurangnya bantuan sumber daya manusia yang berkualitas terkadang tidak mampu untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang telah diberikan, akan tetapi setelah dizaman informasi yang segala sistem sudah canggih, perusahaan memberikan program-program berbantuan komputer untuk membantu karyawan untuk mengerjakan seluruh pekerjaannya. Dengan program-program ini para karyawan tersebut dapat mengambil keputusan untuk mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan baik.
Menurut Dessler (1998:232), kedua isi dari hubungan menajemen tenaga kerja bisa mendapatkan keuntungan dari penggunaan komputer. Manajemen bisa menelusuri keluhan-keluhan untuk melihat dimana dan tentang topik apakah bahwa komputer memberikan cara-cara terbaru untuk membentu dalam mengerjakan suatu pekerjaannya. Karyawan dapat manfaat dari komputerisasi. Dengan perubahan demografik ditempat kerja, tenaga kerja mencari cara baru untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Sedangkan menurut Hellet seorang pakar ahli dalam bidang informasi dalam Dessler (1998:19), mengemukakan baik bagi manajemen maupun tenaga kerja, penggunaan teknologi tersebut untuk penghitungan biaya memberikan tawaran terbaik, yaitu :
“Akses ke komputer dan Bank telah benar-benar mempersingkat waktu riset kami sebelum negosiasi. Dan aplikasi perangkat lunak telah membuat biayakontrak menjadi satu proses yang lebih mudah dan akurat. Untuk tawar-menawar kolektif masa depan. Pengembangan keterampilan komputer yang lebih banyak merupakan suatu kebutuhan”.
Pengaruh sistem Informasi Sumber Daya Manusia terhadap Kinerja (Dessler. 1998:19)
1. Kemampuan karyawan untuk terampil mendengarkan informasi
2. Kemampuan karyawan untuk memusatkan perhatian pada hasil yang diinginkan.
3. Menjaga orang lain tetap terinformasi
4. Keterbukaan terhadap informasi yang masuk.
2.2. Kerangka Analisis
Kerangka analisis adalah sistematika berpikir peneliti dalam penelitian ini, hal tersebut digambarkan dalam gambar 1 dibawah ini
Gambar 1. Kerangka Analisis
Keterangan :
Variabel pengaruh (indepeden) adalah Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (X), Sedangkan Variabel terpengaruh (depeden) adalah Kinerja Karyawan PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna ( Y )
2.3. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga ada pengaruh signifikan sistem informasi sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dan informasi pokok dengan menggunakan kuisioner yang disebarkan pada pegawai pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna
Oleh kerena itu penelitian ini adalah penelitian survey seperti yang dikemukakan oleh Masri Singarimbun (1998:3) bahwa penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data pokok.
Pada penelitian ini penulis mengambil tempat penelitian pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna, Yang beralamat jalan Kolonel Berlian Bengkulu Selatan 38513. waktu penelitian dua bulan sejak Agustus sampai september 2009.
3.2. Definisi Operasional
1. Sistem Informasi Sumber Daya Manusia
Suatu prosedur sistematika pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan, perolehan kembali dan vasilidasi berbagai data tertentu yang dibutuhkan oleh PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna mengenai sumber daya manusianya, kegiatan-kegiatan personalia dan karakteristik satuan kerja.
2. Kinerja
Hasil yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dlam rangka upaya mencapai tujuan PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.
3.3. Metode Pengambilan Sampel
Populasi adalah jumlah keseluruhan responden yang karakteristiknya hendak diteliti (Dayan, 2001 : 152) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
Sedangkan sampel adalah sebagian populasi yang karakteristik hendak diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan populasi (Dayan, 2001: 154). Untuk menentukan besarnya sampel penelitian ini adalah seluruh pegawai PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna yang berjumlah 30 Orang.
Berikut ini adalah Distribusi pegawai PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna pada tiap bagiannya.
Tabel 1.
Distribusi karyawan PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Cabang Manna.
NO NAMA BAGIAN JUMLAH KARYAWAN
1 Giro Wardoyo PINCA 1 ORANG
2 Herman Hardianto Ao Program 1 ORANG
3 Suyono
Rosihan Anwar
Refli Nerman
Harlison Triyadi
Enrdinas Hartaty Ao Komersial 5 ORANG
4 Soleh Suhendar Ao Kunsumer 1 ORANG
5 Nazrunt SUPV.ADK 1 ORANG
6 Feny Restati
Radhiyanto PET.ADK KOMERSIAL 2 ORANG
7 Agus Suyanto PET.ADK KONSUMER 1 ORANG
8 Winda syahfitri
Ice Hervina UPN 2 ORANG
9 Burharnuddin ASS.MANAJER OPS 1 ORANG
10 Sekering Wati SUPV. PELAYANAN KAS 1 ORANG
11 Yuan Syahputra
Dianti Tjaja
Dewi Afrita
Efrita Haryanti
Mala Widyastuti
Cieciencri TELLER 6 ORANG
12 Hamdani TKK 1 ORANG
13 Marlisa SUPV. PELAYANAN INTERN
14 Meva Wagustina SEKRETARIAT DAN ADM. 1 ORANG
15 Fahrur Rozi PETUGAS LOGISTIK 1 ORANG
16 Dharmawan PETUGAS ARSIP, IT, MAINT, LAP 1 ORANG
17 Sutenjo
Nurkolis
Didi Sudarsono
Siarudin
SUPIR 4 ORANG
18 Suhandri
Zetman Hariyadi
Livendi Robintoni
Liun Juanadi
Zaini Abidin SATPAM 5 ORANG
19 Bruri Marantika PRAMUBAKTI 1 ORANG
20 Maman Suhendarman ASS. MANAJER BISNIS 1 ORANG
21 Hani Cyntia Dewi SV. ADMIN. UNIT 1 ORANG
22 Hamdani PEKERJA CADANGAN 1 ORANG
23 Najamudin Oeman
Yuman
Wibowo
Darmawan PENILIK 4 ORANG
24 Zahardian PET. REKONSILASI 1 ORANG
25 Mayani PET. ADM.DJS 1 ORANG
Sumber : PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Manna 2009.
3.4. Metode Pengumpulan Data
1. Studi Pustaka
Adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menghimpun data dari buku-buku atau diktat, laporan ilmiah, majalah, koran dan bentuk lainnya untuk menjadi materi informasi atau teori yang bermanfaat bagi penelitian ini.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian
2. Studi Lapangan
Adalah metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara mengumpulkan data pada objek penelitian, untuk metode studi lapangan maka teknik yang digunakan yaitu :
a. Wawancara
Yaitu teknik digunakan dengan bertanya cara melakukan tanya jawab dengan pimpinan dan karyawan pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
b. Observasi
Yaitu pengamatan Langsung pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu metode yang didapat dari dokumen-dokumen PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna.
d. Kuesioner
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan angket berupa daftar pertanyaan kepada responden, yaitu karyawan PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Manna yang dijadikan sampel. Untuk menganalisa data secara statistik, setiap jawaban responden diberi skor. Cara yang digunakan dalam penentuan skor adalah menggunakan skala likert, metode ini merupakan salah satu cara yang lebih sistematis untuk memberikan skor. Masing-masing pertanyaan pada tiap variabel terdiri dari 5 alternatif jawaban, dengan penentuan skor sebagai berikut :
Alternatif Jawaban Responden Jumlah Skor Jawaban Respenden
Sangat Setuju
Setuju
Kurang Setuju
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
3.5. Metode Analisa Data
Untuk Mengetahui kondisi masing-masing variabel digunakan analisis Diskriptif sebagai berikut :
a. Analisis Kualitatif, yaitu metode analisa yang menggunakan uraian-uraian (metode analisa non statistik). Analisis ini digunakan untuk mendikrifsikan atau menjelaskan fakta penelitian dari hasil analisis kualitatif berdasarkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari literatur yang berlaku, dalam pembuktian hipotesis yang diajukan sekaligus pembuatan kesimpulan penelitian.
b. Analisa Kuantitatif, yaitu metode analisis dengan pengolahan data menggunakan alat-alat statistik antara lain :
1. Untuk mengetahui mengaruh antara variebel kinerja (X) terhadap Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (Y) maka digunakan rumus regresi linier sederhana. Suprapto (2001: 152) sebagai berikut :
Dimana :
Y : Kinerja Karyawan
X : SISDM
b : Koefisien regresi SISDM
a : Nilai konstanta
2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan atau tidak untuk variabel pengaruh (SISDM) terhadap variabel terpengaruh (Kinerja karyawan), maka digunakan rumus Uji t dengan rumus sebagai berikut:
Dimana :
t : hasil test
bi : koefisien regresi
Sbi : standar eror
Dengan tingkat keyakinan 95% atau α =0,05 (5%)
Dengan langkah pengujian sebagai berikut :
a. Jika t hitung t tabel Ho ditolak, Ha diterima, berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel pengaruh SISDM (X) terhadap variabel kinerja karyawan (Y).
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suarmi (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Reneka Cipta.
Handoko, T. Hani (2001). Manejemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : BPEF.
Dayan Anto, (2001). Pengantar Metode Statistik, Jakarta : UP3ES.
Dessler, Gerry, (1998). Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resource Management 7e edisi bahasa Indonesia jilid 2. Jakarta : PT. Prenhallindo.
Masri Singarimbun, 1998. Metode Penelitian Survey. Jakarta. LP3ES Indonesia.
Melayu SP. Hasibuan, (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : PT. Raja Grafindo.
Kasmir, (2002). Bank dan Lembaga Lainnya (edisi keenam), Jakarta : PT. Jaya Grafindo.
Mathis, Robert, (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta :Salemba Empat.

Hubungan Antara Motivasi dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu


BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Hari kesehatan jiwa sedunia di Indonesia telah dicanangkan oleh Presiden R.I pada tanggal 09 Oktober 1993, yang bertujuan untuk mengupayakan agar hak mereka yang mengalami gangguan kesehatan jiwa dihormati, memperluas program pencegahan untuk mengurangi ancaman gangguan kesehatan jiwa dan meningkatkan taraf kesehatan jiwa seoptimalnya bagi seluruh penduduk (Dep Kes, 2005).
Tujuan hari kesehatan jiwa sedunia tersebut dijiwai oleh pengertian kesehatan jiwa yang tercantum dalam Undang Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu kesehatan jiwa sebagai bagian dari kesehatan merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan yang optimal secara fisik, intelektual, dan emosional dari seseorang yang selaras dengan orang lain (Dep Kes, 2005).
Perawat mempunyai  hak dan tanggung jawab untuk melaksanakan setiap tugas dengan baik dan benar  sebagai pemberi asuhan keperawatan. Perawat dalam bertugas mungkin akan dapat mengalami konflik. Sebagai perawat profesional, perawat memerlukan ketelitian dalam memberikan asuhan keperawatan, karena  setiap keputusan  dan tindakan yang dilakukan mempunyai resiko atau konsekuensi. Sebagai perawat di tatanan pelayanan kesehatan malpraktik dan kelalaian bisa saja terjadi, maka perawat harus mendokumentasikan semua tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien atau klien secara baik dan benar.
Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan yang dilaksanakan sesuai standar. Dengan demikian pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak bagi setiap tenaga keperawatan agar mampu membuat dokumentasi keperawatan secara  baik dan benar  (Nursalam, 2001).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pendokumentasian Askep yaitu lama atau waktu pelaksanaan, kepentingan / kegunaan, pendidikan, motivasi. Dari semua faktor diatas, motivasi mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan pendokumentasian askep karena motivasi merupakan suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau melakukan tindakan / bersikap tertentu (Martin Handoko, 2000).
Berdasarkan pengalaman penulis selama dinas di Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu khususnya di rawat inap yang merupakan suatu unit pelayanan dari unit pelayanan yang ada pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan masih sangat kurang, sedangkan menurut pengamatan penulis waktu atau kesempatan untuk melakukan pendokumentasian sangat banyak menurut Carpenito, 1999 normalnya waktu yang  dibutuhkan untuk kegiatan pendokumentasian dalam satu ship yaitu antara 30 – 40 menit. Menurut Carpenito, 1999 rintangan yang umumnya dari stap perawatan terhadap pendokumentasian yaitu : tidak adanya waktu yang cukup untuk menulis, dianggap tidak perlu serta tidak digunakan setelah ditulis.
Berdasarkan penelitian awal yang peneliti lakukan pada tanggal 05 Mei 2008 di Rumah Sakit Jiwa dan Kertergantungan Obat Bengkulu khususnya di ruang rawat inap yang merupakan suatu unit pelayanan dari  unit pelayanan yang ada.  Ruangan rawat inap Rumah Sakit Jiwa Bengkulu terdiri dari 5 ruangan  yaitu ruangan Rajawali, ruang Murai, ruang VIP, ruang IPC serta ruang Mawar dan 50 orang perawat.
Dari kelima ruangan ini pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan hanya dilakukan apabila akan naik pangkat atau hanya untuk keperluan angka kredit. Hal tersebut dapat dilihat dari lembar-lembar asuhan keperawatan yang mayoritas tidak terisi dengan lengkap dan perawat perawat yang mengisi lembar askep tersebut yaitu dari 11 orang perawat pelaksana ditemui di RSJKO 7 orang yang mengatakan perawat tidak melaksanakan pendokumentasian.
Selain berdasarkan pengamatan peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa orang perawat yang bertugas di ruangan, beberapa orang perawat mengatakan bahwa pendokumentasian banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran. Sebagian perawat yang lain mengatakan pendokumentasian tidak begitu penting, sehingga pelaksanaannya belum sepenuhnya sesuai dengan standar yang ada.
Bertolak belakang  pada uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang  “Hubungan Antara Motivasi dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka masalah penelitian adalah kurangnya motivasi perawat terhadap pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan diruang rawat inap RSJKO Soeprapto Bengkulu. Adapun rumusan masalah adalah “Adakah hubungan antara motivasi dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Dan Ketergantungan Obat Bengkulu”.
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu.
Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui gambaran motivasi perawat.
  2. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan.
  3. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu.
Manfaat Penelitian
Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan, sumber pustaka tentang hubungan antara motivasi dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu.
Manfaat Bagi Tempat Penelitian
Sebagai  informasi untuk menciptakan serta meningkatkan kualitas kerja perawat dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit.
Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar dapat dijadikan masukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
Keaslian Penelitian
Berdasarkan kepustakaan yang peneliti telusuri belum ada yang pernah  melakukan penelitian tentang  Hubungan Antara Motivasi dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Dokumentasi Keperawatan
Pengertian
Nursalam (2001) mengatakan bahwa “Dokumen  adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“.  Sedangkan pendokumentasian  adalah pekerjaan mencatat atau merekam peristiwa dan objek maupun aktifitas pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting . Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan  adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat setelah memberi asuhan kepada pasien.
Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan serta respons pasien terhadap asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasien yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan. Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana  komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggung jawabkan.
Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan yang dilaksanakan sesuai standar. Dengan demikian pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak bagi setiap tenaga keperawatan agar mampu membuat dokumentasi keperawatan secara baik dan benar.
Komponen model dokumentasi keperawatan
Kegiatan konsep pendokumentasian meliputi :
Komunikasi
Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang, dan yang akan dikerjakan oleh perawat.
Dokumentasi proses keperawatan
Pencatatan proses keperawatan merupakan metode yang tepat untuk pengambilan keputusan yang sistematis,problem solving, dan riset lebih lanjut. Dokumentasi proses keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, dan tindakan. Perawat kemudian Mengobservasi dan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan yang diberikan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada tenaga kesehatan lainnya.
Standar dokumentasi
Perawat memerlukan sesuatu keterampilan untuk memenuhi standar dokumentasi. Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan kwantitas dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuat dalam suatu situasi tertentu. Standar dokumentasi berguna untuk memperkuat pola pencatatan dan sebagai petunjuk atau pedoman praktik pendokumentasian dalam memberikan tindakan keperawatan.
Tujuan Utama Dokumentasi
Menurut Nursalam (2001) Tujuan utama dari pendokumentasian adalah:
a. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan dan  mengevaluasi tindakan.
b.  Dokumentasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika.
Manfaat Dan Pentingnya Dokumentasi Keperawatan
Menurut Nursalam (2001) dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari berbagai aspek yaitu :
Hukum
Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi keperawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
Jaminan mutu (kualitas pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Komunikasi
Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.
Keuangan
Semua tindakan keperawatann yang belum, sedang, dan telah diberikan dicatat dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
Pendidikan
Isi pendokumentasian menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
Penelitian
Data yang terdapat di dalam dokumentasi mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.
Akreditasi
Melalui dokumentasi keperawatan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan askep pada klien. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tingkat keberhasilan pemberian askep yang diberikan, guna pembinaan lebih lanjut
Prinsip-Prinsip Pendokumentasian
Menurut Nursalam (2001) prinsip pendokumentasian ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi isi maupun teknik pencatatan
Segi isi dokumentasi
1). Mengandung Nilai Administratif
Misalnya rangkaian pendokumentasian kegiatan pelayanan keperawatan merupakan alat pembelaan yang sah manakala terjadi gugatan.
2).  Mengandung Nilai Hukum
Misalnya catatan medis kesehatan keperawatan dapat dijadikan sebagai pegangan hukum bagi rumah sakit, petugas kesehaan, maupun pasien.
3).  Mengandung Nilai Keuangan
Kegiatan pelayanan medis keperawatan akan menggambarkan tinggi rendahnya biaya perawatan yang merupakan sumber perencanaan keuangan rumah sakit.
4).  Mengandung Nilai Riset
Pencatatan mengandung data, atau informasi, atau bahan yang dapat digunakan sebagai objek penelitian, karena dokumentasi merupakan informasi yang terjadi di masa lalu.
5).  Mengandung Nilai Edukasi
Pencatatan medis keperawatan dapat digunakan sebagai referensi atau bahan pengajaran di bidang profesi.
Segi teknik pencatatan (Nursalam, 2001)
1). Menulis nama pasien pada setiap halaman catatan perawat
2).  Mudah dibaca, sebaiknya menggunakan tinta warna biru atau hitam
3). Akurat, menulis catatan selalu dimulai dengan menulis tanggal, waktu dan dapat dipercaya secara fakta.
4).  Ringkas, singkatan yang biasa digunakan dan dapat diterima, dapat dipakai. Contoh : Kg untuk Kilogram
5). Pencatatan mencakup keadaan sekarang dan waktu lampau
6).  Jika terjadi kesalahan pada saat pencatatan, coret satu kali kemudian tulis kata “salah” diatasnya serta paraf dengan jelas. Dilanjutkan dengan informasi yang benar “jangan dihapus”. Validitas pencatatan akan rusak jika ada penghapusan.
7). Tulis nama jelas pada setiap hal yang telah dilakukan dan bubuhi tanda tangan
8). Jika pencatatan bersambung pada halaman baru, tandatangani dan tulis kembali waktu dan tanggal pada bagian halaman tersebut.
Jenis jenis pencatatan
Ada dua jenis pencatatan dokumentasi keperawatan menurut Nursalam (2001) yaitu :
Catatan Pasien secara Tradisional
Catatan pasien secara tradisional merupakan catatan yang berorientasi pada sumber dimana setiap sumber mempunyai catatan sendiri. Sumber bisa didapat dari perawat, dokter, atau tim kesehatan lainnya. Catatan perawat terpisah dari catatan dokter dan catatan perkembangan. Biasanya catatan ditulis dalam bentuk naratif. Sistem dokumentasi berorientasi pada sumber yang ditulis secara terpisah-pisah sulit menghubungkan keadaan yang benar sesuai perkembangan pasien. Catatan tradisional umumnya mempunyai enam bagian, yaitu : catatan khusus, lembar catatan dokter, lembar riwayat medik, lembar identitas, catatan keperawatan, dan laporan khusus lainnya.
Catatan Berorientasi pada Masalah
Pencatatan yang berorientasi pada masalah yang sedang dialami pasien. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh dr. Lawrence Weed dari USA, dimana dikembangkan satu sistem pencatatan dan pelaporan dengan penekanan pada pasien tentang segala permasalahannya. Secara menyeluruh sistem ini dikenal dengan nama “Problem Oriented Record”.
Problem Oriented Record (POR) merupakan suatu alat yang efektif untuk membantu tim kesehatan mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan terapi, diagnosa, penyuluhan, serta mengevaluasi dan mengkaji perkembangan pasien. POR adalah suatu konsep, maka disarankan untuk membuat suatu format yang baku. Tiap pelayanan dapat menerapkan konsep ini dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat.
Komponen dasar POR terdiri dari empat bagian, yaitu :
1).    Data Dasar : identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan sebelumnya. Riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan lain-lain, data dasar diperlukan tergantung dari unit atau jenis asuhan yang akan diberikan, misalnya: data dasar unit kebidanan akan berbeda dengan unit bedah.
2).    Daftar Masalah : masalah pasien didapat dari hasil kajian. Pencatatan dasar masalah dapat berupa gejala-gejala, kumpulan gejala, atau hasil laboratorium yang abnormal, masalah psikologis, atau masalah sosial. Masalah yang ada mungkin banyak sehingga perlu diatur menurut prioritas masalah dengan memberi nomor, tanggal pencatatan, serta menyebutkan masalahnya. Daftar memberikan keuntungan bagi perawat sebagai perencana keperawatan.
3).    Rencana: Rencana disesuaikan dengan tiap masalah yang ada. Dengan demikian perawat dapat merencanakan sesuai kebutuhan pasien.
4).    Catatan Perkembangan Pasien adalah semua catatan yang berhubungan dengan keadaan pasien selama dalam perawatan. Pada umumnya catatan ini terdiri dari beberapa macam bentuk, antara lain :
a). Catatan Berkesinambungan (Flow Sheet)
Digunakan untuk  mencatat hasil observasi perawatan   secara umum, khususnya pada keadaan pasien yang sering berubah-ubah dengan   cepat.
b). Catatan secara Naratif (Notes)
c). Catatan akan Pulang/Sembuh (Discharge Notes)
Dokter maupun perawat membuat kesimpulan tentang keadaan pasien selama dirawat, baik mengenai permasalahan dan tindak lanjut yang dibutuhkan.
Metode pendokumetasian Asuhan Keperawatan
Pendokumentasian Pengkajian
Dokumentasi pengkajian ditujukan pada data klinik dimana perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisisr dalam catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flowsheet dan catatan perkembangan lainnya yang memungkinkan sebagai alat komunikasi bagi tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya.
Petunjuk penulisan pengkajian:
1).    Gunakan format yang sistematis untuk mencatat pengkajian yang meliputi : Riwayat pasien masuk rumah sakit, respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan klien, riwayat pengobatan,
data pasien rujukan, pulang dan keuangan.
2).    Gunakan format yang telah tersusun untuk pencatatan pengkajian
Pendekatan : mayor body system seperti sistem respirasi, sistem kardiovaskular, sistem persarafan, sistem perkemihan, dan sistem pencernaan.
3).    Kelompokkan data-data berdasarkan model pendekatan yang digunakan.
4).    Tulis data objektif tanpa bias (tanpa mengartikan), menilai memasukkan pendapat pribadi.
5).    Sertakan pernyataan yang mendukung interpretasi data objektif.
6).    Jelaskan observasi dan temuan secara sistematis, termasuk definisi karakteristiknya.
7).    Ikuti aturan atauran atau prosedur yang dipakai dan disepakati instansi
8).    Tuliskan secara jelas dan singkat
Pendokumentasian Diagnosa Keperawatan (Nursalam, 2001)
Petunjuk untuk penulisan diagnosa keperawatan meliputi :
1).    Pemakaian PE dan PES : untuk format diagnosa aktual, kecuali ketika petugas yang berbeda mengambil tindakan segera (untuk contoh, tanda dan gejala pencatatan, sebelum dan sesudah diagnosa).
2).    Catat diagnosa keperawatan potensial dalam sebuah problem /  format etiologi.
3).    Pemakaian terminologi tetap dengan diagosa keperawatan karangan Nanda sehubungan dengan (diantara problem dan etiologi) dan dibanding dengan (etiologi, sign dan sympton) tergantung bahasa, jika masalah tidak selesai menurut nanda.
4).    Merujuk pada daftar yang dapat diterima, bentuk diagnosa keperawatan untuk catatan standar dalam saku atau ringkasan.
5).    Mulai pernyataan diagnosa dengan menguabah redaksinya ke dalam keadaan diagnosa keperawatan.
6).    Pastikan data mayor dan penunjang data minor karakteristik pendefinisian diperoleh keperawatan bagian pengkajian pasien untuk menegakkan diagnosa keperawatan
7).    Pernyataan awal dalam perencanaan keperawatan didaftar masalah dan nama dokumentasi dalam catatan perawatan. Pemakaian masing-masing diagnosa keperawatan sebagai petunjuk untuk membuat catatan perkembangan.
8).    Hubungkan pada tiap-tiap diagnosa keperawatan bila merujuk dan memberikan laporan perubahan.
9).    Setiap pergantian jaga perawat, gunakan diagnosa keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, tindakan dan evaluasi.
Dokumentasi Rencana Tindakan
Rencana tindakan keperawatan mencakup tiga hal yaitu meliputi :
1).    Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan harus merupakan prioritas untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung kearah situasi yang mengancam kehidupan klien.
2).    Kriteria  hasil
Setiap diagnosa keperawatan harus mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien.
3).    Rencana tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan adalah memperoleh tanggung jawab mandiri, khususnya oleh perawat yang dikerjakan bersama dengan perintah medis berdasarkan masalah klien dan bantuan yang diterima klien adalah hasil yang diharapkan. Masing-masing masalah klien dan hasil yang diharapkan didapatkan paling sedikit dua rencana tindakan.
Petunjuk penulisan rencana tindakan yang efektif :
a).      Sebelum menuliskan rencana tindakan, kaji ulang semua data yang ada sumber data yang memuaskan meliputi : Pengkajian sewaktu klien masuk rumah sakit, diagnosa keperawatan sewaktu masuk rumah sakit, keluhan utama klien atau alasan dalam berhubungan dengan pelayanan kesehatan, laboratorium, ritme latar belakang sosial budaya, riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, Observasi dari tim kesehatan lain.
b).      Daftar dan jenis masalah aktual resiko dan kemungkinan. Berikan prioritas utama pada maslah aktual yang mengancam kesehatan.
c).      Untuk mempermudah dan bisa dimengerti dalam memuat rencana tindakan berikanlah gambaran dan ilustrasi (contoh) bila mungkin diagnosa khususnya sangat membantu ketika teknologi canggih digunakan untuk perawatan klien atau ketika menggambarkan lokasi anatomi.
d).      Tuliskan dengan jelas khusus, terukur, kriteria hasil yang diharapkan untuk menetapkan masalah bersama dengan klien tentukan keterampilan kognitif, afektif dan psikomotor yang memerlukan perhatian.
e).      Selalu ditanda-tangani dan diberi tanggal rencana tindakan, hal ini penting karena seorang perawat profesional akan bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk melaksanakan rencana tindakan yang telah tertulis.
f).      Mulai rencana tindakan dengan menggunakan action verb
Catat tanda-tanda vital setiap pergantian dines
Timbang berat badan setiap hari, informasikan kepada klien alasan isolasi.
g).      Alasan prinsip untuk menuliskan diagnosa keperawatan.:
Bagaimana prosedur akan dilaksanakan, kapan dan berapa lama, jelaskan secara singkat keperluan apa yang perlu dipenuhi, termasuk tahapan-tahapan tindakan.
h).      Tuliskan rasional dari rencana tindakan.
i).      Rencana tindakan harus selalu tertulis dan ditanda-tangani
j).      Rencana tindakan harus dicatat seagai hal yang permanen
k).      Klien dan keluarganya jika memungkinkan diikutsertakan dalam perencanaan.
l).      Rencana tindakan harus sesuai dengan waktu yang ditentukan dan diusahakan untuk selalu diperbaharui misalnya setiap pergantian dinas, setiap hari, dan atau sewaktu-waktu diperlukan.
4).    Dokumentasi Intervensi Keperawatan
Perencanaan dan tindakan keperawatan adalah tahap dalam proses keperawatan berdasarkan masalah aktual dari klien
Maksud dokumentasi adalah menemukan secara tepat sebagai gambaran intervensi keperawatan yang meliputi :
a ). Intervensi terapeutik
Tindakan terapeutik adalah askep yang langsung sesuai keadaan klien. Rencana keperawatan yang lebih dari satu harus di kerjakan sungguh-sungguh sesuai prioritas masalah dalam diagnosa keperawatan.
b). Intervensi observasi
Proses ini membutuhkan ketajaman observasi perawat termasuk keterampilan mengevaluasi yang tepat. Program yang lebih dari yang sangat menentukan kesehatan klien.
5).    Dokumentasi Evaluasi Perawatan
Pernyataan evaluasi perlu dokumentasikan dalam catatan kemajuan, direvisi dalam rencana perawatan atau dimasukkan dalam ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan dan tentu perencanaan. Pedoman untuk pendokumentasian evaluasi :
a).      Sebelum kesimpulan evaluasi dengan data yang mendukung penilaian perawat. Contoh data pendukung (untuk klien dengan myocard infark) : tidak ada dispnea. Penilaian perawatannya : toleransi aktifitas meningkat.
b).      Mengikuti dokumentasi intervensi keperawatan dengan pernyataan evaluasi formatif yang menjelaskan respon cepat klien terhadap intervensi keperawatan atau prosedur.
c).      Menggunakan pernyataan evaluasi sumatif ketika klien dipindahkan ke fasilitas lain atau dipulangkan.
d).      Catatan evaluasi sumatif untuk setiap hasil yang diharapkan diidentifikasikan pada perencanaan keperawatan klien, bisa berjalan 500 kaki dan menaiki 12 tangga tanpa bantuan. Evaluasi sumatif : dapat berjalan 200 kaki tanpa alat bantu dan dapat naik turun 6 tangga tanpa bantuan.
e).      Menulis pernyataan evaluasi yang merefleksikan keadaan perkembangan klien terhadap tujuan, pemasukan yang sesuai dicatat sebagai berikut : kontrol sakit yang tidak efektif setelah medikasi, terus tanpa henti, penghilang rasa sakit dari medikasi berlangsung selama 30 menit.
f).      Melalui suatu penilaian atau modifikasi intervensi, mengawali dan mendokumentasikan respon perawat untuk mengubah kondisi klien.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan Menurut Martin handoko (2000) yaitu :
         a.   Lama atau waktu pelaksanaan
faktor yang menyebabkan pendokumentasian askep belum optimal karena dokumentasi keperawatan terlalu bervariasi, rumit dan membutuhkan waktu lama sekitar 35-140 menit.
b.   Kepentingan atau kegunaan
Menurut Carpenito ( 1999 ) rintangan dari staf perawat terhadap pendokumentasian yaitu: tidak ada waktu yang cukup untuk menulis, dianggap tidak perlu kecuali akreditasi dan tidak digunakan setelah ditulis.
c.   Pendidikan
Pendidikan merupakan tingkat dasar pengetahuan intelektual yang dimiliki seseorang, karena pendidikan merupakan modal dasar dalam rangka pengembangan pengetahuan, sikap dan ketrampilan
d.   Motivasi
Motivasi adalah suatu dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau bersikap tertentu ( Hasibuan, 2001).



Motivasi
Pengertian
Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu menurut Stoner & Freeman dalam Gibson ( 1999). Motivasi menurut Ngalim Purwanto dalam Notoatmodjo (2003) adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut Sbortell & Kaluzny, dalam Gibson (1999) motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku.
Tidak jauh berbeda dengan ke tiga pendapat diatas Azwar dalam Adam Indra (1999) hampir berpendapat sama yaitu motivasi  adalah upaya untuk menumbuhkan rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga pada seseorang ataupun sekelompok masyarakat agar mau berbuat dan bekerjasama secara optimal melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan menurut Martin Handoko (2000), motivasi adalah pemberi daya penggerak untuk menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka bekerjasama, efektif dan terintegrasi dengan segala daya untuk mencapai kepuasan. Motivasi adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu menurut Poerwadarminta dalam Achmad (2004).
Dari berbagai macam definisi motivasi, Menurut Stanford dalam Achmad (2004) ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisologis maupun psikologis.
Hipotesis
Ho       : Tidak ada hubungan yang bermakna antara motivasi perawat           dengan pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan.
Ha       : Ada hubungan yang bermakna antara motivasi perawat dengan       pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan.
Hubungan Antara motivasi Dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Askep
Hubungan antara motivasi dengan pelaksanakan dokumentasian, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : masa kerja, tingkat pendidikan, kesejahteraan karyawan. Perilaku yang timbul pada diri seseorang karena didorong adanya kebutuhan. Kebutuhan yang ada pada diri seseorang selalu berorientasi pada tujuan sehingga dapat terpenuhinya kebutuhan yang diinginkan. Dengan adanya motivasi maka baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat membentuk perilaku seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Handoko (1998) bahwa dengan adanya motivasi maka akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. begitu juga dengan tenaga keperawatan, dalam penelitian ini tentang pendokumentasian proses keperawatan dapat dilakukan dengan baik jika didorong dengan adanya motivasi perawat untuk melakukan usaha tersebut. Motivasi dengan kategori
Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang, dan motivasi sebagai proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor dalam diri seseorang itu sendiri disebut intrinsik atau faktor diluar diri seseorang disebut ekstrinsik. Faktor di dalam diri seseorang dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau kemasa depan. Sedangkan faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber bisa dari orang lain, faktor-faktor lain yang sangat komplek.
Perilaku yang timbul pada diri seseorang karena didorong adanya kebutuhan. Kebutuhan yang ada pada diri seseorang selalu berorientasi pada tujuan sehingga dapat terpenuhinya kebutuhan yang diinginkan. Dengan adanya motivasi maka baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat membentuk perilaku seseorang.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Rancangan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara survey Analitik dengan menggunakan rancangan cross-sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel tergantung (efek) (Alimul,2002).
Kerangka Pikir / Kerangka Konsep
Pada penelitian ini sebagai variabel independent yaitu motivasi. Sedangkan variabel dependen yaitu pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan. Secara skematis, kedua variabel penelitian tersebut digambarkan sebagai berikut:
Bagan 1 :
Variabel Independen                                        Variabel Dependen
Defenisi Operasional
Defenisi operasional merupakan petunjuk bagaimana suatu variabel ini dapat menjadi indikator dari variabel lainnya.
Tabel 3.1 Defenisi Operasional variabel Dependen dan Variabel Independen
Variabel
Defenisi Operasional
Cara
Ukur
Alat Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
Pelaksanaan Pendokumentasian Keperawatan
Pendokumentasian proses keperawatan dalam penelitian ini adalah suatu tindakan pencatatan proses keperawatan yang dilakukan oleh perawat di RSJKO Soeprapto Bengkulu, dimulai dari diagnosa sampai evaluasi keperawatan.
Melakukan
observasi dengan memeriksa status pasien
Lembar Chek List
Skala Nominal
Lengkap (kode 1) jika pendokumentasian diisi lengkap dengan kategori ≥ 50%.
Tidak Lengkap (kode  0 ) Jika pendokumentasian tidak diisi lengkap dengan kategori < 50%.
Motivasi
Dorongan / keinginan untuk bertindak yang dimilki oleh  perawat untuk melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan.
Kuisioner sebanyak
10 item pernyataan
Pernyataan
Positif
STS = 0
TS   = 1
R     = 2
S      = 3
SS    = 4
Pernyataan Negatif
STS  = 4
TS    = 3
R      = 2
S       = 1
SS     = 0
Kuisioner
Skala Ordinal
a. Kurang jika
skor  22
b. Cukup jika skor 23- 30
c.  Tinggi jika skor  31-40
Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan  perawat pelaksana yang bertugas  di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Bengkulu pada bulan Juni 2008 yang berjumlah 50 orang dan status pasien.
  1. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini menggunakan total sampling dimana populasi dijadikan sampel.
Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 30 Juni sampai dengan 03 Juli 2008, sedangkan pengumpulan data penelitian pada tanggal 03 Juli 2008.
Tempat
Lokasi penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap RSJKO Soeprapto Bengkulu.
Teknik Pengumpulan Data
1.      Cara Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini cara pengumpulan data didapat melalui observasi.
2.      Instrumen penelitian
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data motivasi dan lembar observasi digunakan untuk melihat pelaksanaan pendokumentasian Askep yang dilakukan oleh perawat
3.      Jenis Data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer.
Teknik Pengolahan Analisa & Pengkajian Data
Pengolahan data.
Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dalam beberapa tahap yaitu :
Editing (pengeditan data) meliputi apakah isian pada lembar quesioner sudah cukup baik dan dapat di proses lebih lanjut editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data di lapangan sehingga jika kesalahan maka upaya pembetulan dapat segera dilakukan.
Coding (Pengkodean).
Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana seperti : 1 bila pendokumentasian diisi lengkap dan 0 bila pendokumentasian tidak diisi lengkap.
Tabulasi.
Setelah dilakukan koding data maka dilakukan tabulasi data dari skor jawaban yang diperoleh dengan menggunakan tabel untuk pengkajian hasil pengolahan data guna menyusun uraian – uraian yang dilengkapi dengan penjelasan serta penyajian data dalam bentuk tabel yang kemudian diolah oleh komputer.
Analisa Data
Analisa Univariat
Adalah metode statistik yang digunakan oleh peneliti menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel dengan rumus :
Keterangan :
P       : Jumlah persentase yang di cari
F       : Jumlah  frekuensi untuk setiap alternatif  jawaban
N      : Jumlah responden
Kategori
Baik              : 76-100%
Cukup          : 56-75 %
Kurang         : < 56 %  (Arikunto, 2002)
Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah analisis yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (motivasi perawat ) dengan variabel terikat (pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan) secara bersamaan dengan menggunakan analisa statistik chi-square ( X2 ). Untuk uji pearson chi-square dengan tabel R x C sebagai berikut :
Rumus                      :
Mencari Nilai E        :
Keterangan :
X2      : Chi-square
O      : Nilai Observasi
E       : Nilai Ekspektasi
N      : Jumlah total
( Eko Budiarto, 2001)
Denga derajat kemaknaan 95 % dan tingkat signifikan (α :0,05).
Bila tabel 3×2 menggunakan uji person chi-square maka uji yang digunakan Continuity Correction. Adapun ketentuan uji kai-kuadrat sebagai berikut :
1).     Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan kurang dari 1 (satu).
2).     Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5 (lima) lebih dari 20% dari jumlah keseluruhan sel. Untuk melihat kekutan hubungan antara dua variabel secara signifikan menggunakan uji contingency coefisient (Galton dalam Astono, 2001) kekuatan hubungan secara kualitatif dapat dibagi menjadi 4 area :
1).  r =   0,00 – 0,25 tidak ada hubungan
2).  r =   0,26 – 0,50 hubungan lemah
3).  r =   0,51 – 0,75 hubungan kuat
4).  r =   0,76 – 1,00 hubungan sangat kuat
Jawaban diterangkan dalam perhitungan:
1). Ha diterima apabila x­2 hitung > x2  tabel / p <  0,05
2). Ho ditolak apabila x2 hitung < x2 tabel / p > 0,05
Tabel 3.2  Hubungan Motivasi Perawat Dengan Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan  Keperawatan

Variabel
dependent
Motivasi
Total
Kurang
Cukup
Tinggi
Tidak lengkap
A I
B I
C I
AI+BI+CI
Lengkap
DI
E I
F I
DI+EI+FI
Total
AI+DI
BI+EI
CI+FI+
AI+BI+CI+DI+EI+FI
Keterangan :
A I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan Tidak lengkap dengan motivasi perawat kurang.
B I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan tidak lengkap dengan motivasi perawat cukup.
C I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan tidak lengkap dengan motivasi perawat tinggi.
D I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan lengkap dengan motivasi perawat kurang
E I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan lengkap dengan motivasi perawat cukup.
F I    =    Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan lengkap dengan motivasi perawat tinggi


DAFTAR PUSTAKA


Achmad dkk, 2004. Psikologi. EGC. Jakarta.
Alimul,Aziz, 2002,.Riset Keperawatan dan Teknis Penulisan Ilmiah. Salemba Medika.   Jakarta
Arikunto Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka
Cipta. Jakarta.
Anna Keliat,1999.  Dokumentasi Keperawatan Jiwa. EGC. Jakarta.
Budiarto Eko, 2001. Biostatistika Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. EGC.
Jakarta.
Carpenito, 1999. Diagnosa Keperawatan. Edisi 6.Yasmin Asih, Skp (Ahli bahasa).Monica Ester, Skp Editor.EGC.Jakarta.
DepKes, 2002. Bengkulu Sehat 2010. Pemda Kota Bengkulu.
DepKes, 1999. Pedoman Asuhan Keperawatan di RS Bagi Perawat.  Jakarta.
Gaffar Jumadi,1999. Pengantar Keperawatan Profesional  EGC. Jakarta.
Gibson, 1999.Organisasi: Perilaku, struktur, proses. Edisi V. Erlangga,Jakarta.
Hadi, Sutrisno. 1999, Statistik. ANDI. Yogyakarta.
Handoko M, 2002. Psikologi Keperawatan. EGC. Jakarta.
Indra Adam, 1999. Perilaku Organisasi. Sinar Baru. Jakarta.
Nazir, 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Notoatmodjo, 2004. Metodologi Penelitian.Rineka Cipta. Jakarta.
Notoatmodjo, 2002. Metode Penelitian Kesehatan,.Rineka Cipta. Jakarta.
Notoatmodjo,2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Nursalam, 2001. Dokumentasi keperawatan. EGC. Jakarta.
Nursalam, 2005. Riset Keperawatan. EGC. Jakarta.
Pamela, 2000. Langkah Dasar dalam Perencanaan Riset Keperawatan. EGC.
Jakarta.
Ruth F, 2000. Fundamental Of Nursing. Mosby Company. Toronto.
Sastroasmoro, 1999. Metodologi Penelitian. Bumi Aksara. Jakarta.
Watik Achmad, 2000. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
        Kesehatam Masyarakat. Raja Grafindo Persada. Jakarta.